6 Drama Pengaturan Skor yang Menghebohkan Sepak Bola Dunia

6 Drama Pengaturan Skor yang Menghebohkan Sepak Bola Dunia

Sepak bola adalah olahraga paling populer sejagat. Penikmat bola seantero dunia dibuat teganguntuk mengetahui hasil akhir sebuah laga. Tidak adanya kepastian mengenai tim yang dapat meraih kemenangan dalam sebuah pertandingan jadi daya tarik bal-balan. Namun kadang terdapat beberapa pihak yang ingin merusak esensi dari sepak bola demi keuntungan mereka dengan mengatur alur atau hasil dari sebuah atau beberapa pertandingan. Berbagai penangkapan yang dilakukan di Spanyol berkaitan dengan dugaan pengaturan skor yang terjadi di divisi kedua (Segunda Division) dan beberapa pertandingan divisi teratas (La Liga) mengingatkan kembali mengenai berbagai kasus lainnya yang pernah terjadi di dunia. Walau sudah jelas melanggar peraturan, pengaturan skor tetap menjadi salah satu noda dalam sejarah sepak bola dunia, tak terkecuali di Indonesia. Berikut adalah lima skandal pengaturan skor dalam dunia sepak bola internasional.

Jerman Barat Vs Austria (1982)

Umumnya pertandingan terakhir dalam fase grup sebuah turnamen diadakan secara bersamaan, tetapi hal ini belum terjadi pada Piala Dunia 1982 yang diadakan di Spanyol. Pertandingan yang mendapatkan sorotan saat itu adalah laga antara Jerman Barat dan Austria. Saat itu Jerman Barat dan Austria berhadapan dalam laga terakhir dan memahami bahwa kemenangan 1-0 untuk Jerman Barat akan membuat kedua tim lolos dan menyebabkan Aljazair tersingkir. Kurang dari sepuluh menit pada babak pertama, Jerman Barat langsung mendapatkan keunggulan yang akan membuat mereka dan Austria lolos. Pada akhirnya kedua tim hanya memberikan umpan satu sama lain hingga akhir pertandingan. Momen ini disebut "Laga Memalukan di Gijon" dan menyebabkan FIFA membuat peraturan baru dengan menyelenggarakan setiap laga terakhir fase grup pada waktu bersamaan.

Marseille Vs Valenciennes (1993)

Olympique Marseille di Prancis sedang berada pada puncak kesuksesan mereka pada 1993 setelah mendapatkan gelar juara Champions League pertama dan juga titel Ligue 1 untuk empat kali secara beruntun. Namun pada tahun itu juga mereka terlibat dalam kasus yang menodai sejarah mereka. Bernard Tapie yang saat itu berposisi sebagai pemilik Marseille terbukti telah memberikan sogokan kepada Valenciennes untuk mengalah agar timnya dapat menghindari cedera jelang laga final Champions League. Kasus itu membuat Marseille terdegradasi ke Ligue 2 dan Tapie dilarang untuk terlibat dalam dunia sepak bola dalam sisa hidupnya.

Bruce Grobbelaar (1994)

Kasus pengaturan skor sangat jarang terjadi di Inggris, faktor yang membuat pendukung di negara tersebut dapat merasa bangga dengan integritas dari sepak bola di negara tersebut. Hal ini membuat kasus yang terjadi pada 1994 sangat mengejutkan. Saat itu penjaga gawang Liverpool, Bruce Grobbelaar, dan dua pemain Wimbledon, Hans Segers dan John Fashanu, didakwa terlibat dan menjalani proses persidangan. Hingga saat ini ketiganya masih membantah keterlibatan mereka. Pada akhirnya proses persidangan yang berlangsung sebanyak dua kali tidak dapat menghasilkan vonis dan ketiga pemain tetap dapat terlibat dalam dunia sepak bola.

Calciopoli (2006)

Salah satu skandal terbesar dalam sejarah sepak bola Italia, kasus Calciopoli terjadi pada 2006 dan juga mengejutkan dunia sepak bola. Otoritas Italia menyadap beberapa percakapan di telepon dan mengetahui adanya pihak manajemen klub yang terlibat dengan asosiasi wasit untuk memilih wasit yang dapat memberikan keuntungan kepada klub mereka masing-masing. Klub-klub seperti AC Milan, Fiorentina, Lazio, dan Reggina mendapatkan sanksi pengurangan poin dan larangan tampil dalam kompetisi Eropa. Juventus menjadi klub yang mendapatkan sanksi terberat dengan pencabutan dua gelar juara Serie A yang diberikan kepada Inter Milan, dan kemudian diturunkan ke divisi kedua (Serie B).

Serie C Italia (2011)

Kembali ke Italia, pada 2011 terdapat kasus pengaturan skor yang juga mengejutkan, kali ini di divisi ketiga (Serie C). Kali ini pelaku yang melakukan pengaturan atau yang berusaha menentukan hasil pertandingan adalah penjaga gawang Paganese. Marco Paolini terbukti meracuni minuman yang digunakan oleh para pemain Cremonese yang membuat mereka tidak dapat menunjukkan performa yang maksimal ketika kedua tim berhadapan. Paolini melakukan hal tersebut untuk melunasi utang yang didapatnya akibat perjudian. Pada akhirnya Paolini mendapatkan sanksi larangan terlibat dalam dunia sepak bola selama lima tahun.

Pesta Gol Liga Nigeria (2013)

Pindah ke benua Afrika, tepatnya ke Nigeria, skandal pengaturan skor yang terjadi di divisi kedua negara tersebut mengejutkan dunia pada 2013 akibat dua kejadian yang mengejutkan dalam upaya tim yang terlibat untuk masuk ke divisi teratas. Plateau United Feeders dan Police Machine memperebutkan tiket terakhir untuk masuk ke divisi teratas. Feeders menghadapi Akurba dan unggul 7-0 pada babak pertama, sementara Police unggul 6-0 atas Babayaro FC. Pada babak kedua, Feeders mendapatkan tambahan 72 gol dan meraih kemenangan 79-0 atas Akurba, membuat mereka mendapatkan tiket promosi akibat Police yang “hanya” mendapatkan kemenangan 67-0 atas Babayaro FC. Keempat tim yang terlibat mendapatkan larangan untuk beroperasi selama sepuluh tahun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berlaku Tidak Sopan di Laga Espanyol vs Barcelona Ronald Araujo Minta Maaf

Kisah Odion Ighalo Rogoh Kocek Rp 19 Miliar untuk Panti Asuhan di Nigeria

Drama Tujuh Gol Di Wanda Metropolitano, Atletico Madrid Kalahkan Getafe 4-3