Buat Bandar Judi, Jangan Ada Dusta di Piala AFF 2020

Buat Bandar Judi, Jangan Ada Dusta di Piala AFF 2020

Sejatinya saya hanyalah seorang yang tak kuasa menahan gundah menyaksikan partai semifinal leg kedua Piala AFF 2020 antara Indonesia kontra Singapura. Kegundahan itu membuncah ketika menyaksikan Singapura harus bermain dengan 9 pemain tapi mereka mampu membobol gawang Indonesia untuk kali kedua.

Dari beberapa grup WhatsApp yang saya ikuti, berbagai komentar berseliweran. Ada yang memaki tapi ada juga yang bercoleteh,”Ini bandar besarnya pasti rugi nih.” Sejenak saya terhenyak membaca celotehan tak berdasar itu. Tapi jujur, saat itu juga saya tersadar bahwa partai semifinal ini memang telah memompa adrenalin yang memantik beragam analisa liar untuk berseliweran.

Soal celotehan bandar itu merujuk pada dugaan perjudian sepak bola. Jauh hari Sebelum gelaran Piala AFF 2020 dimulai, citra sepak bola Indonesia memang kembali dicoreng oleh terbongkarnya praktik percobaan pengaturan skor yang dilakukan oleh lima mantan pemain Perserang Serang pada kompetisi Liga 2 2021.

Pada awal November silam itu, Komite Disiplin (Komdis) PSSI langsung menjatuhkan hukuman kepada lima pemain yang terbukti melakukan percobaan pengaturan skor tersebut.

Masih berkaitan dengan bandar judi bola, Singapura juga bukan tempat yang bebas dari praktik culas si kulit bundar. Enam tahun silam, sebuah laporan penyelidikan yang dikeluarkan Europol mencurigai adanya kelompok asal Singapura yang mengatur skor sepak bola dunia. Berdasarkan laporan yang dirilis pada Februari 2013 itu terungkap totalnya ada 680 pertandingan — mulai dari laga kualifikasi Piala Dunia sampai Liga Champions — yang terindikasi diatur skornya.

Lalu, rumor mengenai pengaturan skor ini juga tak lepas dari penyelengaraan Piala AFF edisi kali ini. Rumor tak sedap itu jadi pemberitaan ketika Malaysia mengalahkan Laos, 4-0. Akibat tudingan tersebut, pihak Federasi Sepakbola Singapura (FAS) langsung merespons dengan menegaskan bahwa tidak ada tempat di Piala AFF untuk melakukan pengaturan skor. Pihak FAS juga menegaskan pihaknya sudah menggandeng Lembaga Anti-Korupsi Singapura (CPIB) untuk melakukan pantauan terkait dengan adanya rumor tak sedap semacam ini.

Namun terlepas dari segala macam tudingan tadi, Indonesia memang tak boleh jemawa. Apalagi, dari 13 edisi Piala AFF digelar, skuad Merah Putih belum pernah sekali pun meraih kemenangan. Bahkan, predikat yang melekat kuat buat Indonesia adalah tim spesialis runner-up.

Berdasarkan catatan, sudah empat kali skuad Garuda menjadi nomor dua. Dari empat kali gagal juara itu, tiga di antaranya dikalahkan oleh Thailand pada final 2000, 2002, dan 2016. Sementara Vietnam yang sudah dua kali juara Piala AFF (2008 dan 2018), belum pernah bertemu dengan Indonesia di final. Untuk final nanti, Indonesia menunggu hasil dari laga Thailand kontra Vietnam yang digelar pada Ahad (26/12) malam ini. Pada leg pertama, Thailand Sudah unggul 2-0 dari Vetnam.

Terlepas dari jejak sejarah tak pernah bisa menang di final, Indonesia di bawah asuhan Shin Tae-yong harus bisa berbenah diri lebih baik. Setidaknya, partai semifinal kedua kemarin menjadi warning bahwa tak boleh ada sedikit pun kecerobohan dengan melakukan kesalahan-kesalahan yang tak perlu dilakukan.

Penalti yang diberikan oleh wasit kepada Singapura menjadi tanda bahwa para pemain Indonesia tak boleh lengah, apalagi merasa lebih unggul. Ingat, sepak bola itu adalah permainan yang selalu memberikan peluang kemenangan bagi setiap tim yang bisa tampil fokus. Apa yang terjadi di laga semifinal kemarin, tentunya menjadi pelajaran berharga kepada Evan Dimas dan koleganya untuk memberikan yang terbaik bagi para pendukung timnas.

Rasanya, inilah waktu yang tepat untuk memutus predikat sebagai spesialis runner-up. Di saat yang sama juga, semoga saja partai final Piala AFF 2020 kali ini tak menjadi masuk angin hanya karena ada ulah pengatur skor. Inilah harapan kami para penikmat sepak bola.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berlaku Tidak Sopan di Laga Espanyol vs Barcelona Ronald Araujo Minta Maaf

Kisah Odion Ighalo Rogoh Kocek Rp 19 Miliar untuk Panti Asuhan di Nigeria

Drama Tujuh Gol Di Wanda Metropolitano, Atletico Madrid Kalahkan Getafe 4-3