Mafia Judi bola

Mafia Judi bola

Mafia judi juga biasanya menarget pemain di posisi kunci (misalnya kapten, kiper, dan striker) atau pemain yang berjuang dengan masalah pribadi (keluarga, narkoba, alkohol) atau yang mudah disuap. Perantara mafia judi sering kali adalah mantan pemain tim, dan pastinya seseorang yang mengenal sepak bola lokal.Karena sangat besarnya uang yang dipertaruhkan dan luasnya jaringan mafia bola, perjudian sepak bola sulit dikendalikan aparat penegak hukum. Sepanjang sejarah, perjudian sepak bola juga menjadi sarana pencucian uang kejahatan.

Mafia judi bola di Eropa

Eropa pun kesulitan menindak mafia taruhan sepak bola. Skandal taruhan sepak bola terus terjadi di mana saja, termasuk di Eropa yang selama ini menjadi pusat sepak bola internasional.  Pada 2015/2016, mafia judi diduga memanipulasi sejumlah pertandingan di Jerman dan Denmark. Dalam kedua kasus tersebut, seorang perantara di Denmark menghubungi pemain untuk menyuap mereka agar mencetak skor tertentu.

Wasit Jerman Robert Hoyzer pada tahun 2005 dijatuhi hukuman dua tahun lima bulan penjara karena pengaturan pertandingan. Ada pula Ante Sapina yang dijatuhi hukuman 16 tahun di Athena pada 2018 setelah proses hukum yang berlangsung 14 tahun.  Pada lebih dari 600 pertandingan olahraga di Jerman dan Eropa, para penyelidik menemukan indikasi pengaturan pertandingan. “Beberapa pemain sepak bola dari divisi kedua Liga Jerman ke-2 memiliki hutang judi dengan pelaku,” jelas seorang jaksa Jerman. 

Demikian pula, skandal taruhan di Italia (Calciopoli) menjadi catatan hitam dalam sejarah pengaturan pertandingan sepak bola Eropa. Calciopoli melibatkan, antara lain, mantan manajer Juventus yang telah memanipulasi keputusan wasit.  Dia bahkan bisa mengatur siapa wasit Serie A yang bertugas memimpin pertandingan yang akan datang, atau memberikan instruksi pada wasit untuk menunjukkan kartu kuning kepada pemain tertentu. Juventus kemudian kehilangan dua gelar juara. Klub kebangaan Turin ini bahkan terpaksa terdegradasi. Judi sepak bola di Eropa bahkan telah memakan korban nyawa sejumlah jurnalis yang lantang melawan mafia bola. 

Mafia judi bola Asia

Jika Eropa yang demikian maju sistem pengawasan keuangannya saja bisa ditembus para mafia judi, apalagi benua-benua lain, termasuk Asia.

Mafia judi bola Korea Selatan

Kita mulai dengan skandal judi di Korea Selatan. Skandal judi di Negeri Gingseng ini mulai terkuak pada 2011. Jaksa Korea Selatan menuntut  menangkap dua calo dan menyelidiki 10 pemain, termasuk striker Sangju Sangmu Phoenix dan mantan anggota tim nasional Kim Dong-hyun. Yang paling menyedihkan, judi bola Korea Selatan telah memakan korban jiwa tiga atlet sepak bola yang bunuh diri. Salah satunya Yoon Ki-Won dari Incheon United. Ki-Won bunuh diri karena ia terkait dengan tuduhan pengaturan pertandingan.

Mafia judi bola China

China adalah juga negara dengan skandal judi sepak bola. Nama paling tenar dalam mafia judi Tiongkok mungkin adalah Eric Mao, seorang agen FIFA. Mao menggunakan jaringan internasionalnya untuk berinvestasi di klub-klub kecil di seluruh Uni Eropa. Mao menggunakan perusahaannya, yang sebelumnya bernama Anping Sports Agency. Mao dan kelompoknya beroperasi di Portugal, Irlandia, Rumania, Latvia, Republik Ceko, dan Spanyol. Mao adalah otak jaringan pengaturan pertandingan. Strategi Mao adalah membeli klub yang bermasalah atau bangkrut dan, setelah melakukan investasi kecil, merekrut pemain dan stafnya sendiri yang bisa "diatur". Sejauh ini, investasi oleh Anping atau perusahaan terkaitnya telah dikaitkan dengan skandal pengaturan pertandingan di Rumania (Academia Clinceni) dan di Irlandia (Athlone Town FC).

Mafia judi bola Indonesia

Tak lengkap jika kita tidak mengulas sekilas mafia judi bola di Indonesia. Menurut penuturan seorang mantan runner (perantara mafia bola), Indonesia adalah surga pengaturan skor bola karena sangat mudah menemukan oknum yang bisa "diatur". Pada 2018, kejaksaan menetapkan enam tersangka pengaturan skor. Mereka adalah Ketua Asprov Jawa Tengah, mantan anggota komite wasit dan anaknya, anggota Komisi disiplin PSSI, Direktur Penugasan Wasit PSSI dan wasit pertandingan. Pada 2021,  klub Perserang Serang yang berlaga di Liga 2 menulis laporan dugaan pengaturan skor oleh sejumlah oknum dan pemainnya sendiri. Laporan itu disampaikan ke PSSI tidak lama setelah manajemen Perserang memberhentikan lima pemain dan seorang pelatih. 

Mengapa Indonesia jadi surga mafia bola?

Menurut pengamatan penulis, Indonesia menjadi surga mafia bola karena beberapa faktor ini:
1. Klub-klub masih dikelola seadanya. Gaji pemain tak terjamin, bahkan sering tidak dibayar oleh klub. 
2. Perjudian ilegal sangat mudah diakses warga. Belum ada upaya sistematis dari kepolisian untuk menggulung mafia judi bola. 
3. PSSI sebagai federasi belum menunjukkan keseriusan untuk mengelola sepak bola bebas pengaturan skor. 
4. Melempemnya Satgas Antimafia Bola yang tadinya sempat bertindak tegas. 
5. Belum memadainya sistem perlindungan saksi, jurnalis, dan peniup peluit (whistleblower) yang membongkar kasus judi bola. Sekadar gambaran, di banyak negara maju ada anggaran dan fasilitas khusus untuk melindungi saksi dan jurnalis yang diancam mafia (bola). 

Ulasan ini bertujuan baik, yaitu untuk menyadarkan kita bahwa mafia bola selalu siap merusak keindahan sepak bola. Mafia bola adalah kanker ganas yang perlu diberantas.  Kita berharap, pemerintah, kepolisian, PSSI, dan segenap pemangku kepentingan sepak bola mau kembali menyatukan tekad untuk membersihkan sepak bola Indonesia dari mafia. Tanpa itu, sangat sulit mewujudkan impian liga bermutu dan timnas Indonesia lolos ke putaran final Piala Dunia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berlaku Tidak Sopan di Laga Espanyol vs Barcelona Ronald Araujo Minta Maaf

Kisah Odion Ighalo Rogoh Kocek Rp 19 Miliar untuk Panti Asuhan di Nigeria

Drama Tujuh Gol Di Wanda Metropolitano, Atletico Madrid Kalahkan Getafe 4-3