Pengertian Mafia Bola atau Bola Mafia

Pengertian Mafia Bola atau Bola Mafia

Kegagalan mampu terjadi bukan hanya salah memilih biro bola terbaik atau keliru memprediksi, melainkan memilih tabrak pertandingan yang sudah dikuasai oleh "mafia bola" atau "bola mafia". Kami rasa Anda pasti pernah mendengar hal ini. Sebutan "mafia" tidak terlepas dari dunia taruhan bola itu sendiri. Jangankan di bola, di kehidupan sehari-hari juga banyak mafianya. Mafia pengadilan, berandal tanah, berandal politik, berandal bbm (bahan bakar minyak), berandal gedung dewan (DPR), makelar kasus, berandal di permainan saham, dsb. Semua itu mafia! Sering kita mendengar atau ada orang yang bilang begini, "Bola banyak mafianya." "Bola tidak mampu menang karena ada permainan mafianya.." "Mau menang bola ikuti cara berpikir mafia." Bla...bla...bla... dsb. Apakah benar? Kalau benar di mana letak kebenarannya? Kalau salah, terus mengapa ada anggapan menyerupai itu? Apa gotong royong arti atau pengertian dari berandal bola atau bola berandal itu sendiri? Seperti apa kemungkinan permainan yang mampu dilakukan dan apa tujuan atau sasarannya? Berikut yaitu sedikit gambaran yang menurut kami harus Anda pertimbangkan.

Mafia bola atau bola berandal yaitu sebuah istilah yang merujuk pada hasil pertandingan sebuah tabrak sepakbola. Jika skor balasannya sudah diatur sedemikian rupa, maka itulah berandal bola. Tentu saja kasat mata namun benar-benar sudah diatur sedemikian rupa. Entah hasilnya seri, tuan rumah menang atau tim tamu menang. Klub mana yang harus mengalah, pemain mana yang harus mendapatkan kartu merah, menit ke berapa harus terjadi tendangan penalti, dsb...semuanya sudah diatur dengan bagus dan cerdik. Penonton pasti tidak bakalan tahu. Kita ambil sebuah ilustrasi sederhana. Misalnya tabrak antara klub AC Milan vs Torino. Secara kasat mata semua orang pasti akan memilih AC Milan karena merupakan klub terkenal. Jika tanpa voor (leg-legan), dengan merem semua petaruh pasti memilih AC Milan. Namun hasil simpulan tabrak tersebut ternyata AC Milan kalah telak misalnya skor 0 - 1. Sangat tidak masuk di logika bukan? Bagaimana mungkin klub berpengaruh mampu kalah dari klub lemah? Kurang lebih menyerupai itulah gambaran bergairah soal permainan mafia. Berbicara soal berandal bola memang tidak terlepas dari apa yang disebut handicap dan nilai odds pasaran bola itu sendiri. Namun supaya mampu mendapatkan esensi gambaran yang mendasar, kita harus memisahkan semuanya itu dulu. Anggap saja pertandingan tersebut murni tanpa uang kei (odds), tanpa voor dan tanda handicap. Makara murni tabrak tanpa taruhan. Perhatikan 3 pertandingan di bawah ini:

Hitungan bergairah di atas kertas, semua orang (tak mesti bettor) pasti tahu memilih klub mana. Anak kecil pun tahu yakni memilih klub bertanda merah yakni Barca, Chelsea dan Munchen. Mengapa? Karena ketiga klub tersebut yaitu klub papan atas dan kaya raya. Mereka mampu merekrut dan membeli banyak pemain-pemain kelas dunia yang mahal-mahal. Beli mahal-mahal tujuannya apa? Sudah pasti harus menang sehingga mendapatkan tropi dan hadiah besar termasuk sponsorship, hak siar, merchandise, dsb. Untuk tumpuan di atas: dua tim berada di posisi kandang dan satu di posisi tandang. Tetapi konyolnya, hasil simpulan ketiga tabrak tersebut belum tentu semuanya dimenangkan oleh tim-tim papan atas. Bisa hasilnya draw atau bahkan kalah. Kok mampu kalah atau hasilnya seimbang? Inilah yang disebut ada unsur berandal yang mengatur hasil akhirnya. Sekali lagi itu hanya ilustrasi saja. Dalam prakteknya mampu saja ada faktor lain. Namun jikalau klub terkenal lalu kalah dari klub ecek-ecek kemungkinan memang ada permainan berandal bola.

Sedikit Catatan Tambahan

Tidak selalu jikalau sebuah tabrak yang mempertemukan klub papan atas vs klub papan bawah di mana klub papan bawah menang berarti ada mafianya. Tidak! Kalah menang sebuah klub masih dipengaruhi banyak faktor yang beberapa di antaranya adalah: Ada pemain inti cedera dan belum pulih. Dengan demikian tidak full team diturunkan sehingga hasilnya tidak maksimal. Ada pertandingan yang jauh lebih bergengsi 2-3 hari atau seminggu kemudian. Otomatis bukan pemain inti yang diturunkan melainkan pemain lapis dua. Misalnya tabrak UEFA Champions, UEFA Eropa atau CUP, dsb. Sang pelatih atau manajer mencoba format susunan pemain terbaru. Biasanya di awal ekspresi dominan liga apalagi jikalau seorang manajer gres yang gres dipilih.

Kita harus profesional dan berimbang memperlihatkan penilaian. Banyak orang begitu kalah bola lalu bilang bola ada mafianya, namun giliran menang tak pernah keluar dari mulutnya ucapan tersebut. Sungguh aneh! Seolah-olah melempar kesalahan dan kegagalan kepada orang lain. Padahal pilihan probabilitas bola hanya 2 yakni: atas/bawah, tuan rumah/tamu, over/under. Siapa yang menyuruh harus memegang satu posisi tersebut? Kita sendiri bukan?
Mafia bola tidak bermain di semua liga, tidak bercokol di semua klub dan tidak mampu masuk di semua laga. Mafia bola menyusup di pertandingan-pertandingan tertentu di mana mereka mampu meraup untung.
Beberapa gejala atau strategi yang sering dimainkan para berandal bola antara lain:
Sengaja melanggar (tackling) lawan untuk mendapatkan kartu merah sekaligus penalti.
Tujuannya supaya tim lawan menambah atau mencetak skor jikalau belum ada gol sama sekali.
Melakukan gol bunuh diri tanpa sengaja. Padahal disengaja dikarenakan telah dibayar.
Tendangan sengaja diplesetkan padahal sudah di depan gawang tanpa halangan.
Menyentuh bola dengan tangan di kotak penalti seperti tanpa sengaja.
Wasit memihak dan mudah memperlihatkan kartu kuning, kartu merah atau bahkan penalti kepada salah satu tim.
Tim yang sudah dapat kartu merah tetapi masih mampu mencetak banyak gol dan menang.
Tim berpengaruh sengaja hanya menang 1 bola atau menahan seri padahal mereka mampu mencetak lebih dari itu. Hasilnya sudah pasti petaruh kalah tetapi tim tersebut masih menang. Misalnya voor yaitu 2,5 tetapi skor hanya menang 1 bola. Tim tersebut mendapatkan 3 poin sementara petaruh gigit jari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berlaku Tidak Sopan di Laga Espanyol vs Barcelona Ronald Araujo Minta Maaf

Kisah Odion Ighalo Rogoh Kocek Rp 19 Miliar untuk Panti Asuhan di Nigeria

Drama Tujuh Gol Di Wanda Metropolitano, Atletico Madrid Kalahkan Getafe 4-3